Inilah contoh Penyimpangan Pancasila dan UUD’45

Walaupun sejumlah pihak berupaya untuk melakukan revitalisasi terhadap falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, namun seorang pemerhati Pancasila dan pengamat politik, Profesor Tcipta Lesmana mengaku pesimis dengan gagasan tersebut.

Pasalnya, menurut Tcipta, saat ini hampir seluruh sistim  kehidupan berbangsa dan bernegara berbenturan dan bahkan menyimpang dari prinsip dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 45.

Dalam dialog bersama PRO3 RRI, Kamis (26/05), Tjipta Lesmana membeberkan beberapa contoh sistem yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

Contoh tersebut diantaranya ialah pembentukan Sekertaris Gabungan (Setgab). Setgab dinilainya bertentangan dengan sistem ketatanegaraan dan konstitusi yang diamanatkan dalam UUD ’45.

“Setgab itu bertabrakan dengan konstitusi kita. Dengan adanya setgab, otonomi wakil rakyat habis. Wakil rakyat harus tunduk 100 persen kepada keputusan setgab. Dan semua masalah, termasuk masalah yang tidak strategis, misalnya siapa Kapolri, siapa Jaksa Agung, siapa Gubernur BI, semua dibicarakan terlebih dahulu di meja setgab, semua  disepakati oleh setgab. Bahkan teman saya anggota DPR, Bambang susatyo bilang, kalau Setgab sudah memutuskan, kita bisa apa? ini memalukan sekali. Padahal wakil rakyat itu harus berjuang untuk kepentingan rakyat”, tuturnya.

Selain itu, ia juga menilai juga terjadi penyimpangan dalam sistem ekonomi yang menurutnya tidak sesuai dengan semangat pasal 33 UUD 45.
“Sementara sistem ekonomi pasal 33 yg asli sudah disobek-sobek dan Pancasila sudah diinjak-injak oleh sistem ekonomi yang sangat pro kapitalis, sangat pro liberal. Contoh sederhana, produk RRC seperti air bah masuk deras dari Sabang sampai Marauke. Di desa-desa, produk RRC masuk semua. Akibatnya sekian  banyak industri lokal mati, sekian banyak orang nganggur”, ungkapnya.

Ia pun juga prihatin dengan kenyataan yang terjadi bahwa bangsa Indonesia justru mengimpor ikan yang berasal dari wilayah laut Indonesia. Menurutnya, fakta ini sangat tidak sesuai dengan falsafah pembangunan yang diamanatkan Pancasila dan UUD ’45.

“Negara RI adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan laut yang begitu luas dengan ikan yang begitu banyak. Tetapi angka impor ikan  kita meningkat terus, sangat memalukan. Yang lebih memalukan, sebagian ikan yang diimpor berasal dari laut Indonesia.  Diambil oleh orang luar negri, diolah dan dijual kembali ke Indonesia”, keluhnya.

Selain itu, ia juga menilai gaya demokrasi di Indonesia tidak sesuai dengan semangat musyawarah mufakat yang tercantum dalam Pancasila dan UUD 45.

“Bangsa kita punya adat ketimuran dan terkenal dengan gotong royong, kaya musyawarah mufakat. Sekarang semua ikut Barat, one man one vote (satu orang satu suara-red). Kita belum siap. Akibatnya pembangunan berorientasi pada modal besar, uang dan kekayaan” imbuhnya. (Nata)

 

About these ads

~ by Christof Nata on May 29, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: